
Muaro Jambi (Tim Humas MTsN 3 Muaro Jambi) – Keberanian Ki Hadjar Dewantara dalam menyuarakan kebenaran melalui tulisan membuatnya dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan yang paling vokal pada masa kolonial. Ia tidak segan mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap merugikan rakyat pribumi. Salah satu tulisan yang paling menggugah sekaligus kontroversial adalah artikelnya yang berjudul “Jika Aku Seorang Belanda”, yang terbit pada 1913.
Dalam tulisan itu, Ki Hadjar Dewantara dengan lantang mengkritik rencana pemerintah kolonial yang ingin menggunakan dana rakyat Indonesia untuk merayakan kemerdekaan Belanda. Ia menilai tindakan tersebut tidak masuk akal dan tidak memiliki rasa empati terhadap penderitaan bangsa jajahan. Artikel tersebut menggugah banyak orang, tetapi sekaligus membuat pemerintah kolonial merasa terancam. Akibat keberaniannya itu, ia bersama dua tokoh lain dari Indische Partij, yakni Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, dihukum buang ke Belanda.
Masa pengasingan ke Belanda pada 1913–1919 menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Ki Hadjar Dewantara. Alih-alih melemahkan semangat juangnya, pengasingan tersebut justru membuka kesempatan bagi dirinya untuk mempelajari berbagai sistem pendidikan modern di Eropa. Di Belanda, ia memperdalam ilmu pendidikan dan pedagogi dari para ahli seperti Montessori, Froebel, dan tokoh-tokoh pendidikan progresif lainnya.
Selama berada di negeri asing itu, Ki Hadjar Dewantara juga aktif mengikuti diskusi-diskusi intelektual, bertemu dengan para pemikir dunia, serta mempelajari bagaimana pendidikan mampu membentuk karakter bangsa. Ia menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar proses pengajaran, tetapi juga merupakan alat pembebasan manusia dari penindasan dan ketidaktahuan. Pemahaman itulah yang kemudian membentuk dasar dari konsep pendidikan yang memerdekakan.
Selain itu, Ki Hadjar Dewantara tetap menulis dan mengkritisi ketidakadilan meskipun jauh dari tanah air. Ia menjadikan pengasingan sebagai ruang untuk memperkuat gagasan dan strategi perjuangannya. Pengalaman internasional yang ia dapatkan selama di Belanda semakin memperkaya wawasan serta memperteguh tekadnya untuk memperjuangkan akses pendidikan bagi rakyat Indonesia setelah kembali ke tanah air.
Masa pembuangan ini menjadi titik balik penting dalam sejarah kehidupannya. Dari Eropa, ia membawa pulang ilmu, pengalaman, dan pandangan baru tentang bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan—sebuah pendidikan yang membentuk manusia merdeka, berkarakter, dan berbudaya.
|
38x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Muaro Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...